Celotehku

Ocehan manusia adalah kerdil ketimbang celoteh alam. Lebih agung lagi firman-Nya

Sunday, November 26, 2006

TAPAK BERDERAP (1)

KETIKA enam tapak bayang-bayang bersembunyi,
Sang Kembara dirana walau hati senyak.

Kendati semburat kelabu fajar beriringan dersik malam serenta redum kejora menyisakan gigil,
tanpa ragu Sang Kembara beringsut menentang gulana.

Mata pun melayang pandang,
memunggung suram mentari.

Nun jauh di ufuk barat, kaki cakrawala,
tampak puncak bukit berselubung perak mega gilap-gemilap.
Dan tanpa memaling lagi, Sang Kembara melangkahkan kaki,
nyaris tanpa berbekal paling berhana sekalipun, sebab terpenting semata hanyalah asa menerbit.
...
Satu hingga puluhan bilangan, langkah memang tergulut-gulut hampir menyeret, kerap serandung pula.
Namun biarlah, toh tak ada embun dan semerbak anyelir merah di taman hati ini,
hanyalah setangkai selasih kemangi membalur lara.
...
Sampai akhirnya pada hitungan ratusan langkah,
barulah tapak ini mulai terasa ringan menjejak.
Berderap meski kersik kering terserak membentang,
walau pula peluh merengat dan dengus merengap.
Dan, sang waktu pun terus bergulir tanpa patokan belaka jam pasir.

PsMinggu, 6 Desember 2006
SETIAP MANUSIA...

SETIAP manusia ingin meraih impian.
Ingin...ingin...ingin..., begitulah.
Akan tetapi jangan biarkan kehendak itu,
mengawang-awang atau melangit.
Itu tetap harus membumi.

Setiap manusia mempunyai ambisi.
Ada yang bilang,
manusia tanpa ambisi bagaikan burung tanpa sayap.
Asalkan saja tidak main terabas untuk menggapainya,
atau menghalalkan segala cara.

Setiap manusia mempunyai mimpi.
Bermacam-macam malah,
dari mimpi indah hingga buruk.

Setiap manusia ingin dicintai dan mencintai.
Lebih utama lagi, suka hati bila orang yang dicintainya itu bahagia.

Setiap manusia pernah teraniaya dan sakit hati.
Bahkan, perasaan ini bisa mengendap lama bila hati tak segera dibersihkan.

Setiap manusia bisa terjatuh.
Akan tetapi terperosok ke dalam lubang yang sama,
bisa dibilang bodoh lantaran tak belajar dari pengalaman.

Setiap manusia pernah mengalami apa yang dinamakan jenuh atau malas.
Kalau itu tak bisa dihindari,segera niatkan kembali untuk bangkit.
Memotivasi diri, bahasa kerennya.

Setiap manusia pernah berdosa atau khilaf.
Terpenting adalah menyadari kesalahan tersebut.
Dan, tentunya tak mencari kambing hitam atau alibi pembenaran.

Tetapi, tak semua manusia menjadi visioner,
atau berpikir jauh ke depan.
Perlu memahami gerak perubahan zaman
dan mendekatkan diri kepada Sang Khalik.

Gatsu, 9 Oktober 2005
ALAKAZAM, SEMULAH KEBERSAMAAN

ADA kata membius mendebur tepian relung jiwa-jiwa terbelenggu. "Kebersamaan", itulah perkataan mereka. Teramat dahsyat, laksana mantra sihir menjelmakan perjuangan.

Alakazam...
Dari kata "kebersamaan" meletus Revolusi Prancis antara tahun 1789 dan 1799. Revolusi yang bergaung hingga sekarang dan menjadi model melalui pengejawantahan semangat liberte, egalite, dan fraternite. Kebebasan, persamaan, dan persaudaraan. Kendati beberapa tahun setelah pisau guillotine memenggal leher-leher kaum ningrat, Prancis nyaris menjadi monarki lagi di bawah dinasti Napoleon Bonaparte.

Alakazam...
Patriot-patriot di koloni Inggris di Amerika Utara pun mengadopsi dan cukup menyederhanakan itu semua menjadi "freedom" alias kebebasan yang kini hegemoni Amerika Serikat malah merisaukan dunia ketiga.

Alakazam...
Dari Prancis dan Amerika Serikat, kata sakti "kebersamaan" berembus dan lagi-lagi menyihir. Kali ini oleh pemikir-pemikir kaum Bolshevik yang mengusung paham sama rata sama rasa, perlambang masyarakat tanpa kelas meski pada akhirnya dijungkirbalikkan oleh rezim komunis itu sendiri alias diktator proletar.

Alakazam...
"Kebersamaan" pulalah yang memicu tokoh-tokoh pergerakan kebangsaan di Hindia Belanda menggaungkan Sumpah Pemuda. Benih-benih "kebersamaan" atau disebut pula senasib sepenanggungan (sebut sebangsa setanah air) menjelma menjadi persatuan hingga kemerdekaan Indonesia benar-benar tergapai. Kendati setelah kemerdekaan banyak jiwa tak merdeka lantaran keserakahan merajalela.

Dan, masih banyak contoh sejenis. Yang jelas, semua fragmen di atas adalah bagian dari gerak perubahan sejarah. Hanya, tentunya, terlalu naif bila mengabaikan itu semua. Agar, kemurnian kata "kebersamaan" tak ditunggangi retorika belaka, dari pemberontak-pemberontak semu bermantra sihir "kebersamaan".

PsMinggu, 1 September 2005
FABEL GAGAK DAN BAGINDA DILANGIT

Gubahan: Empu Assirna



PUPUH SATU

WAHAI Upik yang belum terlelap, dengarlah kisah gagak ini.
Gak...gak...gak...

Kisah Gagak yang melupakan jatidiri sehingga tak terbilang kehancuran dibuatnya.

Cerita ini datang dari negeri jauh, Kerajaan Dilangit di mana para burung berbicara seperti manusia. Negeri yang dipimpin oleh Rajawali perkasa, Baginda Dilangit.

Berlaksa-laksa burung tunduk kepada Baginda Dilangit. Pun demikian dengan bangsa Elang, para Hulubalang Langit pendekar dirgantara.

Begitulah mulanya kisah ini.


PUPUH DUA

WAHAI Upik yang belum terlelap, dengarlah kelanjutan kisah gagak ini.
Gak...gak...gak...

Suatu ketika sepasang mata tajam Rajawali tertumbuk pada seekor gagak kecil yang terjatuh di kubangan lumpur. Jatuh ibalah Sang Rajawali, maka dipungutlah si gagak kecil tersebut.

Sedari kecil hingga tumbuh dewasa, Gagak itu diperlakukan baik, teramat baik malah. Seluruh armada burung, tak terkecuali Hulubalang Langit, diminta tak mengusiknya.


PUPUH TIGA

WAHAI Upik yang belum terlelap, dengarlah kelanjutan kisah gagak ini.
Gak...gak...gak...

Limpahan kasih sayang itu ternyata membuat Sang Gagak pongah dan congkak. Satu demi satu burung termasuk Hulubalang Langit disingkirkan. Hanyalah Nuri yang bisa berkawan dengan Si Gagak.

Serombongan Elang atau Hulubalang Langit kemudian memindahkan sarang mereka ke bumi, tepatnya di kerimbunan hutan. Atas kehendak Dewata, Hulubalang Langit itu akhirnya menjelma menjadi Ayam Jantan. Meski tak mengangkasa lagi, hidup mereka tenteram sentausa.

Begitulah adanya.


PUPUH EMPAT

WAHAI Upik yang belum terlelap, dengarlah kelanjutan kisah gagak ini.
Gak...gak...gak...

Anehnya, kepergian Hulubalang Langit dianggap angin lalu oleh Baginda Dilangit. Titah Sang Rajawali, Elang-Elang itu dianggap pengkhianat negara. Burung Hantu, sempat mengingatkan Sang Baginda. Namun, Rajawali itu mengabaikan nasihat Burung Hantu yang tak lain Perdana Menteri Langit.

Perdana Menteri Langit tak berkecil hati. Ia mencoba mendekati Sang Gagak. Tapi Gagak tetaplah Gagak. Dia merasa sebagai Pangeran Mahkota, yang kelak mewarisi tahta Kerajaan Dilangit. Terlebih, Sang Rajawali semakin tua, matanya hampir buta pula.

Si Burung Hantu akhirnya memilih menyusul para Hulubalang Langit ke bumi. Bahkan, saking kecewanya, Burung Hantu yang dulunya Perdana Menteri Langit ini tak mau memunculkan diri di siang hari. Di malam hari saja ia mau muncul. Itu pun dengan suara pilu mendalam, hu...hu...hu...


PUPUH LIMA

WAHAI Upik yang belum terlelap, dengarlah akhir kisah gagak ini.
Gak...gak...gak...

Gonjang-ganjing di Kerajaan Dilangit itu akhirnya sampai ke telinga bangsa Nazar, burung pemakan bangkai, musuh Rajawali dan Elang. Mereka segera mengepakkan sayap menuju Kerajaan Dilangit yang tak dijaga lagi oleh para Hulubalang Langit.

Ke mana Sang Nuri? Ternyata bangsa Nuri lari beterbangan begitu armada Nazar memasuki Istana Kerajaan Dilangit.

Dan, bangsa Nazar dengan mudah menaklukkan Kerajaan Dilangit. Si Gagak pun dipatuk hingga mati. Adapun, Sang Rajawali dengan sisa-sisa kekuatannya terbang menjauh menuju ufuk timur. Baginda Dilangit mengira bangsa Elang atau para Hulubalang Langit yang dulunya setia itu berada di sana.

Namun apa hendak dikata, hingga sekarang kabar Sang Rajawali itu tak terdengar lagi. Yang terang, para Ayam Jantan jelmaan Hulubalang Langit itu selalu menunggu kedatangan Sang Surya. Seakan tak bosan, setiap Fajar menjelang, mereka selalu menanyakan hal yang sama. Ke mana gerangan bekas junjungan kami itu pergi? Kukuruyuk...kukuruyuk...kukuruyuk...

Begitulah adanya.

Fabel ini hanyalah pelipur lara, pengantar tidur Si Upik. Bekal Si Upik dewasa kelak bahwasanya saling asih, saling asah, dan saling asuh itu teramat perlu.

PsMinggu, 20 Mei 2005
PENGGALAN MAKNA DI ANTAH BERANTAH

DENGAN kecepatan cahaya, sinar redup dari jutaan tahun itu mendekati sebuah bintang di bibir galaksi antah berantah. Dia lelah, meski tak tersembul. Gravitasi bintang itu memang aneh. Teramat aneh, tapi sukar terjawab. Begitulah...

Saat menepi bintang,
sinar redup itu semakin meredup sampai hanyalah tinggal seberkas. Berkasan itu tiba-tiba berputar cepat, berpendar, dan meledak sehebat-hebatnya. Laksana partikel atom yang mendesak kian kemari kemudian memenggal diri seluas-luasnya. Ledakan maha dahsyat terjadi sudah.

Ternyata,
energi tiada tara itu tak sampai mematahkan kekuatan gravitasi sang bintang, apalagi meleburkannya. Dan, wujud terakhir sinar redup itu mengakui. Sang bintang tak bisa diusik sedemikian rupa...

Maka,
berembuklah kedua wujud itu laksana perundingan dua pihak yang bertempur sekian lama. Namun hanyalah kebisuan yang mendominasi. Tanpa ucapan klise, mata batin merekalah yang berbicara. Dan, mereka berkehendak tanpa sepotong ucapan jua. Keduanya sama-sama memahami dan memaknai.

PsMinggu, 27 Februari 2005
MENANTI CAHAYA HATIKU
(Penantian Seorang Teman Terdekat)


RODA kereta itu mulai berputar saat diriku tengah menatap tepian rel. Bukan...bukan itu yang kunanti. Kembali kutarik kedua kakiku dan kuikat kedua lututku dalam satu pelukan. Dan, kujadikan tumpuan bagi kepalaku yang cuma satu.

Kutengadah, kutengoki cakrawala yang mulai memerah. Biru terhalang dan mulai digerayangi merahnya cahaya di ufuk sana.

Sesekali kuputar leher memastikan kapan keretaku tiba sampai birunya langit kembali pekat kemerahan kemudian hilang dalam gelapnya. Sampai hilang matahari tetap tak kunjung ada. Setengah tertidur kupicingkan mata, sesekali, dan mulai terasa meski tak terdengar. Tapi kutahu, mereka mengelilingiku seolah menatap genit dari kejauhan.

Kuangkat kembali kepalaku, menengadah ke langit. Mulai kuhitung: satu...dua...tiga...sembilan...
Aku berteriak, "Aku tak sendiri...!"

Namun mereka tetap terdiam memandang kosong ke arahku seolah aku tak di sini lagi.Aku hanya bisa memelototi satu per satu. Kuputar kepala, kumiringkan badan, sambil terus memandangi.

Hanya satu diantara mereka yang kukenal. Pancarannya yang biasa cerah terlihat agak sedikit pudar. Mulanya aku tak yakin apakah benar dia, tapi memang dia.

Tak lagi kupikirkan kereta yang datang. Kucoba menghampirinya. Tapi, begitu jauh. Hanya cahayanya yang dapat sampai padaku. Begitu pun dengan lainnya, jauh. Namun tak seterang yang kukenal ini.

Kucoba menangkap maknanya, namun terlalu jauh untuk kumengerti. Jadi, kubiarkan saja mereka menatapi aku sesukanya sambil tetap kulalui penantianku.

Di antara mereka, cuma satu yang berani menatapku seperti itu. Dia yang sepertinya kukenal. Mereka cerahkan malam, gantikan mentari kala siang. Kucuma berharap satu yang kukenal, dapat terus kugenggam, kembali menemaniku dalam penantian ini. Oh...

~someone~ from bee

25 Februari 2005
MENANTI CAHAYA HATIKU
(Penantian Seorang Teman Terdekat )


RODA kereta itu mulai berputar saat diriku tengah menatap tepian rel. Bukan...bukan itu yang kunanti. Kembali kutarik kedua kakiku dan kuikat kedua lututku dalam satu pelukan. Dan, kujadikan tumpuan bagi kepalaku yang cuma satu.

Kutengadah, kutengoki cakrawala yang mulai memerah. Biru terhalang dan mulai digerayangi merahnya cahaya di ufuk sana.

Sesekali kuputar leher memastikan kapan keretaku tiba sampai birunya langit kembali pekat kemerahan kemudian hilang dalam gelapnya. Sampai hilang matahari tetap tak kunjung ada. Setengah tertidur kupicingkan mata, sesekali, dan mulai terasa meski tak terdengar. Tapi kutahu, mereka mengelilingiku seolah menatap genit dari kejauhan.

Kuangkat kembali kepalaku, menengadah ke langit. Mulai kuhitung: satu...dua...tiga...sembilan...
Aku berteriak, "Aku tak sendiri...!"

Namun mereka tetap terdiam memandang kosong ke arahku seolah aku tak di sini lagi.Aku hanya bisa memelototi satu per satu. Kuputar kepala, kumiringkan badan, sambil terus memandangi.

Hanya satu diantara mereka yang kukenal. Pancarannya yang biasa cerah terlihat agak sedikit pudar. Mulanya aku tak yakin apakah benar dia, tapi memang dia.

Tak lagi kupikirkan kereta yang datang. Kucoba menghampirinya. Tapi, begitu jauh. Hanya cahayanya yang dapat sampai padaku. Begitu pun dengan lainnya, jauh. Namun tak seterang yang kukenal ini.

Kucoba menangkap maknanya, namun terlalu jauh untuk kumengerti. Jadi, kubiarkan saja mereka menatapi aku sesukanya sambil tetap kulalui penantianku.

Di antara mereka, cuma satu yang berani menatapku seperti itu. Dia yang sepertinya kukenal. Mereka cerahkan malam, gantikan mentari kala siang. Kucuma berharap satu yang kukenal, dapat terus kugenggam, kembali menemaniku dalam penantian ini. Oh...

~someone~ from bee

25 Februari 2005
BIDADARA KEMBARKU DAN BIDADARI MUNGILKU

LIMA purnama lewatlah sudah. Lima bulan setelah tiupan ruh ilahi itu kembali melayang pergi dari rahim bundanya. Pelan mengalun tapi pasti, duka ini terobati dengan kemunculan dua bidadara nan rupawan.

Belum genap enam purnama, air mata kembali menetes pilu. Penuh pilu, teramat malah. Tiupan ilahi kembali mengangkasa. Lagi-lagi, pelan mengalun dengan pasti. Duka pun kembali terbalut. Dengan kehendak-Nya pula, bidadari cantik tersebut tercipta.

Dan kini, dua bidadara dan satu bidadari kecilku itu menghiasi mimpi.

PsMinggu, 18 Februari 2005
CAKRAWALA LANGIT HITAM TAK BERBINTANG (BAGIAN TERAKHIR)

SUARA itu benar-benar bikin sengsara.

"Dedemit enggak tahu diri," teriakku sekencang-kencangnya.
Eh, malah dibalas dengan suara tanpa wujud: hoo... Maunya apa sih, setan itu, pikirku sembari keheranan. Belum lagi keherananku sirna, suara menakutkan itu seakan hendak mengoyak selaput gendang telingaku. Sakit sekali.

Tiba-tiba, suara tak berwujud itu berubah lembut. Seiring dengan itu, lantunan mirip orang tua terdengar.
"Eyang heran. Kenapa masih muda, kok, malah berniat mengakhiri hidup. Lucu sekali, benar-benar bikin terpingkal-pingkal."
"Siapa itu," sergahku."Eyang adalah penunggu air terjun."
"Terus mau apa," tanyaku tak sabaran.
"Tadinya, Eyang mau mengambil roh ananda. Tapi setelah melihat ketulusan hati ananda menolong teman, jadinya Eyang mengurungkan niat itu. Lagian, Eyang menilai ananda belum siap hidup di alam halus."
"Belum siap bagaimana?" buruku lagi.
"Alam dunia halus sangat berbeda dengan dunia kasar. Di sini, sebagian besar arwah adalah penasaran. Mereka dulunya adalah orang-orang berdosa atau melanggar pantangan. Sedangkan hati ananda bersih dan mulia. Sebaiknya, ananda memikirkan niat bunuh diri itu masak-masak sehingga tak ada penyesalan di kemudian hari."
"Penyesalan yang bagaimana," serbuku lagi.

Ternyata pertanyaanku itu tak dijawab. Suara Eyang itu pun tak muncul lagi. Bersamaan dengan itu dari kejauhan tampak rombongan temanku menuruni bukit terakhir. Mereka bertanya-tanya, tapi aku bungkam seribu bahasa. Biarlah kejadian tadi menjadi rahasia bagi diriku.

Dua tahun sudah berlalu, namun hasrat itu kembali menerbit.

Schizophrenia benar-benar menghabiskan energiku. Entah mengapa keinginan itu selalu muncul saat diriku tengah berada di gunung. Sekarang niat bunuh diri itu menyergap di Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat.

Gunung tertinggi di Tanah Pasundan ini memang menantang, apalagi ini adalah pendakian pertamaku di Ciremai. Akan tetapi tak ada yang istimewa dari gunung ini selain tanjakan terjal tiada henti dari ketinggian sekitar 2.250 mdpl sampai 3.078 mdpl. Sebut saja Tanjakan Binbin, Tanjakan Seruni, dan Tanjakan Baba Tere.

Segala tanjakan terjal itu pun kulalui dengan mudah, sementara puluhan temanku masih ngos-ngosan untuk melewatinya. Yang ada dalam benakku adalah bergegas menuju puncak, mengejar matahari terbit setelah semalaman penuh mendaki.

Sejumlah pos berikutnya juga kulalui dengan ringan. Dari Batu Lingga, Sangga Buwana, hingga Pengasinan. Dan, hamparan edelweiss mulai tampak meski samar-samar lantaran mentari belum menyembul di ufuk Timur. Semburat jingga dan oranye pun mulai mewarnai cakrawala Timur. Kerlip bintang pun meredup satu per satu seakan pamit kepada diriku.

Puncak itu terlihat jelas di depan mataku. Tiba-tiba, rasa haus mengeringkan kerongkonganku. Tanganku menyentuh veldples yang senantiasa tergantung di pinggang. Bah! Ternyata veldplesku kosong melompong.
"Sempurna...berarti niat bunuh diri kali ini memang bakal tuntas," desisku, nyaris tak terdengar.

Sesampai di puncak, aku langsung berbaring di batu besar dekat bibir kawah. Dua jam mungkin aku tertidur. Kedua mataku perlahan membuka dan telingaku mendengar teriakan sejumlah teman yang mulai sampai di puncak. Pagi telah tiba dan kehangatan sinar matahari mulai terasa di wajahku.

Aku segera bangkit dan langsung memanggul ransel biru bututku lagi. Kuhampiri teman-temanku itu. Setelah berbasa-basi sebentar, selanjutnya aku memisahkan diri. Tanpa terasa kakiku melangkah lagi dan hendak memutari puncak gunung. Teman-temanku semakin mengecil dari pandangan. Tak terasa sudah satu jam berjalan sendirian dan belahan lain kawah di bawah terlihat jelas. Setengah jam kemudian aku kembali bergabung dengan teman-temanku setelah memutari puncak.

Kebiasaan dari dulu, aku memang selalu turun duluan. Belum setengah jam berlari, dua rekanku tampak berusaha menyusul. Ya sudah, aku menunggu. Tak sampai lima menit, Buyung dan Irwan sampai. Baru saja mereka sampai, terdengar jeritan Cakil.

Apalagi pikirku. Ternyata seekor monyet besar memburu Cakil. Pantas saja dia terbirit-birit dan berteriak seperti orang kesurupan. Tanganku meraih batu dan langsung menimpuk monyet besar itu.
"Ada-ada saja," kataku setelah berhasil mengusir kera berbulu hitam itu.Tapi di balik kata-kata itu, aku sempat berpikir ini pertanda apa.

Setelah cukup beristirahat, tiga temanku mengajak turun bersama, tapi ajakan itu aku tampik secara halus. Bukan aku tak mau menyertai mereka. Namun, ya itu tadi, aku berniat bunuh diri dengan cara menyasarkan diri di kegelapan belantara.

Bunyi sepatu boot tiga temanku itu kian lama semakin tak terdengar. Inilah saatnya. Bukannya membelok ke kanan, melainkan melambung jauh ke kiri. Sedikit demi sedikit jalanan setapak berubah. Rimbunnya tanaman tepus dan pakis pun seakan berlomba menelan lebar jalan. Jalanan tanah tak tampak lagi. Turunan pun semakin curam mengarah ke suatu lembah kecil yang mungkin tak pernah dilalui manusia. Berbagai jenis pohon tak dikenal juga mendominasi tepian lembah. Aneh.

Keanehan tambah lengkap seiring langkah kedua kakiku yang tak bisa dikendalikan lagi mengikuti dorongan sebuah kekuatan asing. Dan tepat di tengah lembah, pandanganku melayang berputar. Barisan pohon yang mengelilingi lembah sunyi ini juga merapat dempet membentuk suatu pagar. Ganjil, benar-benar ganjil. Anehnya lagi, aku tak mengetahui lagi dari arah mana tadi datang.

Keganjilan menjadi sempurna begitu ada lubang di tengah lembah. Di tepian lubang seperti sumur tak berdinding itu banyak sulur ilalang kering. Bau aneh juga menyeruak dari dalam lubang, seperti wangi kembang tapi jenis bunganya belum pernah kuketahui. Mungkin perpaduan antara melati dan kenanga.

Kesan angker langsung mendominasi perasaan dan pikiranku saat itu juga. Namun, indera keenamku memperingati diriku agar tak bertindak gegabah.

Waktu seakan berputar cepat, jarum panjang arlojiku telah berputar satu putaran penuh. Berarti sudah satu jam aku termangu menatap lubang hitam tak berdasar itu. Ada bisikan yang menyuruh melompati lubang tersebut, namun indera keenamku melarangnya. Batinku pun bergolak. Di satu sisi, hasrat bunuh diri meletup. Sementara di sisi lainnya, nuraniku melawan kehendak itu.

Akhirnya, pilihan untuk hidup semakin membesar. Aku berusaha berjuang untuk hidup, terutama selagi roh masih menaungi jasad kasarku ini. Belum lagi diriku tersadar sepenuhnya, auman harimau terdengar dari balik barisan pohon. Suara cakaran kuat juga terdengar. Ajaib, pohon-pohon yang tadinya merapat membentuk barisan satu demi satu luruh hingga terbentang sebuah lorong. Tanpa ragu, aku melangkah memasuki lorong itu. Baru saja sepatuku menapak, jalan setapak mulai terlihat. Jalanan yang merupakan jalur pendakian. Aku pun menuruni lereng terakhir menuju hutan pinus, perbatasan hutan dengan sawah penduduk.

Lagi-lagi diriku selamat. Di tepian hutan pinus, aku merendam kedua kaki di sebuah kali kecil. Air sungai nan bening itu dingin, sedingin hatiku. Malam pun mulai merambat, namun cakrawala terang benderang dengan dihiasi kerlip bintang. Kesunyian hati pun sirna setelah diriku menemukan makna perjuangan hidup.(Tamat)

PsMinggu, 23 Desember 2004
CAKRAWALA LANGIT HITAM TAK BERBINTANG (BAGIAN PERTAMA)

KABUT dingin mulai menggigit dan menyergap sekeliling sebuah pondok kayu di Parakan Salak, Sukabumi, Jawa Barat. Suatu petang di lembah kecil di lereng Gunung Salak, itu Sang Surya baru saja menggelincir di ufuk Barat. Satu per satu rekan-rekanku memilih mengaso di dalam pondok kayu setelah beberapa jam menumpang truk dari Ibu Kota, plus tentunya satu jam berjalan kaki dari jalan aspal terakhir. Mereka pun menghangatkan diri masing-masing ke pediangan besar di dalam pondok.

Hangatnya potongan-potongan kayu yang dibakar itu ternyata tak mengundang minatku. Hanya ransel biru butut milikku yang kutaruh sekenanya di depan serambi pondok. Mataku pun lantas tertuju ke sebuah batu besar di samping pondok. Dalam hitungan detik, aku sudah nongkrong di atas batu. Di kejauhan, gunung berpuncak berundak dan berbayang pekat itu tampak menantang hasrat.

Sekilas kemudian pandanganku beralih menembus cakrawala langit hitam tak berbintang. Pikiranku segera meliar, seliar-liarnya. Terutama mempertanyakan segala makna hidup selama rentang perjalanan hidupku. Sebersit keinginan ganjil tanpa kuasa menyeruak di benakku: keinginan bunuh diri.

Hasrat itu bukan tanpa latar belakang. Malah sangat pelik dan rumit faktor penyebabnya. Ini di awali dengan kebencian dan dendam. Mengapa orang lain memiliki kesempurnaan, sedangkan aku tidak. Demikianlah semua itu berawal. Dari sebuah pertanyaan pahit kemudian menjelma menjadi benci dan dendam. Bukan terhadap orang lain, melainkan kepada diri sendiri.

Susah memang melawan semua rasa tak puas tersebut. Pendengki? Olala, bukan itu julukan diriku. Mereka, entah itu teman atau orang yang hanya sekadar kenal, menyebut diriku: pertapa. Mungkin lantaran diriku banyak menghabiskan waktu dengan khayalan atau angan semata. Tapi biarlah itu semua. Toh, aku menjalani hidup dengan caraku sendiri.

Kembali ke persoalan bunuh diri tadi. Niat ini memang benar-benar hendak kulakukan sekarang. Setelah sebelumnya gagal di Gunung Slamet. Di ketinggian Kota Purwokerto, Jawa Tengah, itu memang aku gagal. Rencana yang kususun matang itu dipatahkan oleh sebuah gangguan dari teman-temanku yang tersesat di belantara. Sebenarnya teramat lucu. Betapa tidak, aku yang hendak menyesatkan diri di hutan dengan pura-pura turun duluan dari puncak berpasir itu justru menyelamatkan rombonganku.

Sialan! Umpat hatiku saat menemukan mereka. Kawan-kawan satu sekolah menengah pertamaku itu malah memuji diriku sebagai pahlawan. Padahal aku sudah merambah jauh ke luar jalur pendakian normal selama tiga hari. Eh, kok, sekarang malah bertemu teman-temanku. Tadinya aku mengira mereka sengaja mencari diriku. Ternyata mereka benar-benar kesasar di tengah hutan. Mereka letih, haus, dan lapar. Sedangkan aku memang sengaja membuang persediaan makanan maupun minuman untuk melancarkan maksud bunuh diri tadi.

"An...Andi!"
"Hei, benar itu Andi."
Setelah berseru kegirangan, tangan Anton melambai ke arahku. Mau tak mau, aku menghampiri teman satu kelasku itu.
"Mana yang lain, Ton?"
"Itu di sana, tak jauh kok, Ndi."
"Yuk ke sana," ajak Anton.

Tak sampai setengah jam berjalan, aku dan Anton menjumpai persinggahan darurat teman-temanku yang lain. Seluruh temanku termasuk Anton ada bersembilan. Mereka tersesat. Parahnya lagi, seluruh temanku itu kakinya terkilir. Mereka bercerita pas turun terlalu melambung ke kiri. Setelah sadar, mereka sudah tersesat bahkan tak menemukan jalur semula karena malam keburu datang. Dan pada hari kedua, mereka benar-benar tersasar. Karena bekal makanan habis dan air minum menipis, mereka mencoba mencari sumber air. Gara-gara itulah, kesembilan temanku ini nyaris terperosok ke jurang. Makanya, kaki terkilir sudah untung bagi mereka.

Aku pun tercekat, batinku bergolak. Belum hilang itu semua, suatu bisikan batin muncul. Bisikan ini sekaligus membangkitkan tenagaku. Entah mengapa, keinginan bunuh diri itu menghilang. Dan yang muncul adalah semangat menyelamatkan teman-temanku itu. Akhirnya kita semua selamat. Sejak itulah, diriku didaulat teman-temanku menjadi pemimpin mereka. Permintaan yang tak kuasa ditolak memang.

Kejadian itu telah berlalu, dua tahun lewat. Kini, keinginan buat bunuh diri menerbit lagi. Oh... (Bersambung)

PsMinggu, 16 Desember 2004
CAKRAWALA LANGIT HITAM TAK BERBINTANG (BAGIAN KEDUA)

LAMUNANKU buyar. Teriakan beberapa temanku mengusir bayangan trauma itu. Cakrawala langit pun masih hitam dan tanpa kerlip bintang. Namun penat dan kantuk tak bisa dilawan, manusiawi memang. Dengan langkah berat akhirnya aku menuju pondok untuk beristirahat. Besok, pendakian dimulai.

Pagi buta sekali, seluruh temanku sudah bersiap mendaki. Mereka telah menyandang ransel masing-masing. Setelah menebas jalur awal yang penuh semak ilalang, kami menemukan jalan setapak menuju Kawah Ratu. Tak terasa, kami telah berjalan lebih dari satu jam. Bau belerang pun semakin menyengat, berarti Kawah Ratu sudah tak jauh.

Sesampai di kawah, kami beristirahat sembari merendam kaki di air belerang yang hangat itu. Sebagian teman malah ada yang meminum air berwarna seperti jeruk itu setelah terlebih dahulu dikasih gula.

Satu jam melepaskan penat, kami meneruskan pendakian. Jalanan setapak semakin licin meski kemiringan medannya belum menyusahkan kami. Setelah kira-kira menanjak selama tiga jam, kami akhirnya mencapai lereng gunung. Medan yang dilalui pun mulai menantang penuh tanjakan yang lebih banyak menyerupai jalur air atau air terjun kecil. Dan, satu-satunya pegangan tangan adalah akar yang menyembul. Itu pun kalau tak hati-hati merayap bisa terpeleset atau terbanting ke bawah.

Dengan penuh kehati-hatian, kami melalui segala rintangan itu. Diperkirakan, puncak tak sampai satu jam lagi dicapai. Medan curam terbentang di depan dan di kanan kiri tampak jurang menganga lebar. Ada jalur sempit yang lebarnya tak sampai sejengkal dengan panjang sepuluh meter. Tantangan yang mendebarkan.

Satu demi satu, teman-temanku melewati rintangan itu. Di sebelah kanan jurang tampak Kawah Ratu yang lagi semangat mengepulkan asap belerang. Kabut gunung pun menyembulkan di sela-sela kerimbunan hutan tropis basah ini. Kira-kira 15 menit berjalan, tanah yang kami jejak sebagian besar berlapis lumut atau humus hutan.

Kami memang harus hati-hati, salah-salah bisa terperosok. Benar saja, baru saja aku berpikir begitu, seorang temanku menginjak lapisan daun busuk yang dikira tanah keras itu. Tanpa ampun lagi, Bimo terperosok hingga sebatas lengan. Kepanikan segera menyergap rombongan kami, terutama yang terdekat dengan Bimo.

"Bim, jangan bergerak terus, nanti eloe tambah terperosok!"

Setelah berteriak memperingatkan Bimo, aku langsung melemparkan ikatan panjang webbing ke arahnya. Dia pun meraih webbing merah itu. Dengan dibantu beberapa rekan, aku menarik berat tubuhnya. Berhasil!
Ucapan syukur dan terima kasih segera meluncur dari mulut Bimo.

"Makanya hati-hati, Bim. Emang mikirin siapa, sih," kataku sembari bercanda.
"Enggak tahu, tuh. Tiba-tiba aja gue terperosok. Kirain tanah, eh, lubang beneran. Syukur deh, gue ketarik, kalau enggak, tahu deh gimana. Tadi, kaki gue udah enggak jejak lagi. Mungkin itu jurang beneran, ya," ucap Bimo dengan napas masih tersengal-sengal.

Sehabis kejadian yang cukup mengejutkan itu, kami kembali berjalan menuju puncak, tentunya dengan ekstra hati-hati. Tak lama kemudian, puncak gunung terlihat di depan mata. Setelah semua anggota rombongan sampai, kami segera membentuk lingkaran bersama memanjatkan doa syukur.

Selagi semua anggota beristirahat, makan, atau berfoto, aku memilih turun duluan. Setelah hilang dari pandangan, aku berlari sekencang-kencangnya. Tanpa mempedulikan turunan licin dan berbahaya. Aku laksana terbang seiring pikiran yang melayang mengangkasa. Kutak tahu sudah berapa lama berlari atau melompat. Tiba-tiba, terang berganti gelap. Sangat pekat, malah.

Keadaan sekitar gelap gulita. Tak ada gemerisik daun, tiada pula desir angin. Yang ada hanyalah kehampaan dan kekosongan jiwa. Lamat-lamat terdengar bunyi gemuruh seperti air terjun. Sayup-sayup pula terdengar bunyi tertawa yang entah datang dari mana.

Semakin lama tawa itu kian pekak dan hendak memecahkan gendang kedua telingaku. Kedua telapak tanganku segera menutupi sepasang kupingku. Bukannya mengecil, tawa itu makin kencang.(Bersambung)

PsMinggu, 22 Desember 2004
UNTAIAN BINTANG TAK BERTEPI (Bagian Ketiga)

UNTAIAN bintang kembali menghias relung terdalam hatiku, meski kemerlipnya belum begitu indah. Hmm... Jalan hidup memang siapa yang bisa menebak. Tatkala mata hatiku meredup, kemerlip bintang datang membuyar semua keluhan jiwa. Padahal, setahun terakhir ini, bibirku akrab mencicipi apa yang dinamakan air api. Malu sebenarnya diungkapkan, lidahku sudah merasai segala jenis whiskey hingga red wine. Cukuplah hanya alkohol. Dan, diriku tak hendak mencoba menjajal obat-obatan jenis psikotropika atau yang mengandung zat adiktif lainnya. Pemabuk, memang, tapi diriku bukanlah junkies. Bodoh, kalau aku sampai terjerumus ke "Lembah Narkoba".

Bersamaan dengan timbulnya kebiasaan baruku itu, muncul "Dewa Penolong". Sang penolong itu memang tak jauh-jauh munculnya. Dia adalah Bowo, tinggalnya masih sewilayah denganku. Seingatku, Bowo itu tipe cowok pemalu. Entah mengapa, suatu malam, ia menyambangi rumahku. Dan, entah angin apa yang menyertainya, lelaki yang umurnya lebih tua lima tahun dariku ini menyatakan cintanya. Aku sempat terkesiap mendengar pernyataan itu. Terlalu pagi, begitu aku mengucap dalam hati.

Malam demi malam, meski tak setiap hari, Bowo kerap berkunjung. Penolakan halus diriku seolah tak mengendurkan hasratnya. Lambat-laun hatiku tergugah, terlebih kedua orang tuaku mendukung jalinan kasih di antara kita. Belakangan diketahui, ibu memang sedari dahulu hendak menjodohkan diriku dengan Bowo. Baru, sekarang niat itu kesampaian.

"Sudahlah, nak, Apalagi yang kau pikirkan? Bowo itu mungkin memang pasangan hidupmu. Tunggu apalagi? Nak Bowo itu tampaknya serius, dan kamu juga sudah bekerja."Begitulah Ibu, saban hari selalu menasihati diriku.

Nasihat ibu akhirnya melunakkan hatiku. Aku pun mengiyakan saat Bowo berencana mengikat jalinan lebih jauh. Acara tunangan itu kemudian digelar bersamaan dengan ulang tahunku. Agak meriah, acara itu. Soalnya banyak keluarga dari pihak ibuku yang hadir. Mereka bergantian mengucapkan selamat dan mengecup pipiku. Ada pula yang tersenyum menggoda sembari menanyakan kapan menikah. Wah, pertanyaan yang belum aku bisa jawab. Dan aku hanya bisa menjawab sembari bercanda: "Tunggu tanggal mainnya, deh".

"Benar, tunggu tanggal mainnya," begitu aku mengulangi jawaban itu ketika Bowo mendesak, beberapa bulan kemudian. Kekecewaan jelas tergambar di wajah cowok yang sebenarnya lumayan ganteng itu. Tapi, aku memang jujur apa adanya.

Semenjak itulah, sikap Bowo mulai berubah. Dia mulai sering berbohong jikalau malas menemani diriku jalan-jalan. Bahkan, ada selentingan yang mengatakan dia mulai melirik cewek lain. Tadinya, aku tak percaya kabar burung itu. Namun dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat Bowo jalan dan bermesraan dengan Teti, teman sekantorku.

"Walah... Itu, sih, namanya bajingan," geram diriku. Ternyata, lelaki umumnya memang bajingan dan sulit dipercaya. Terngiang lagi ucapan Sandra, beberapa waktu silam.

Belum habis kegeraman hatiku, Bowo pun muncul. Dengan wajah tanpa dosa, dia langsung mengecup keningku. Kutepis halus dengan tangan, eh, dia malah tersenyum-senyum.

"Dasar bajingan. Enggak ada puasnya, emang!"
"Kenapa sayang, kok jadi marah-marah begitu?"
"Kenapa...kenapa...kamu tuh kenapa," timpalku.
"Kenapa sayang," tanya Bowo sekali lagi.

Edannya. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba Bowo memeluk diriku. Dengan rakusnya, mulutnya melumat bibirku. Tangannya pun mulai menggerayangi tubuhku dengan liar. Beberapa detik memang aku terbuai. Namun dengan napas masih satu dua, aku menolak tubuhnya yang saat itu telah menindih badanku di sofa ruang tamu. Adegan itu untungnya terjadi saat rumahku kosong.

"Ala... Kamu jangan munafik, deh. Kamu juga suka dan merindukan hal begitu, kan?"

Dengan kemarahan yang menggelegak tamparan itu akhirnya mendarat di wajah Bowo. Keras, memang. Tapi itu cukup buat segala kekurangajaran Bowo terhadap diriku.

Setelah kejadian itu, aku dan Bowo memang jarang bertemu. Akan tetapi, kami berdua sepakat tak membatalkan pertunangan secara tiba-tiba. Ini agar orang tua kita tak terpukul.

"Kita jalani dulu, seolah-olah tidak terjadi apa-apa," ucap Bowo.

Boleh jadi, hubungan ini tak bisa dipertahankan. Seiring dengan situasi ini, jiwaku kembali menjerit. Sampai kapan untaian bintang ini bakal bertepi? Entah...(Habis)

Gatsu, 11 November 2004
UNTAIAN BINTANG TAK BERTEPI (Bagian Kedua)

UNTAIAN bintang pun meredup bersama datangnya kabut kelam. Lambat laun tapi pasti, diriku meliar dan menggosong jiwa. Sepasang mataku nanar, namun jiwaku seakan terus memberontak yang pada akhirnya menggelegak. Begitulah malam demi malam kulalui tanpa makna. Hanya terkadang, sayup-sayup terdengar lagu The Sound of Silence-nya Simon dan Garfunkel menyayat sukma. Oh...

Hello darkness, my old friend, I`ve come to talk with you again, Because a vision softly creeping, Left it`s seeds while I was sleeping, And the vision that was planted in my brain. Still remains. Within the sound of silence...

Memang, kegelisahan saat malam tak berbintang sungguh meradang luka hatiku. Jiwaku dahaga mengerontang, menunggu sesuatu ketidakpastian.

Dan entah mengapa, akhirnya, aku tak menampik tawaran kelembutan yang disodorkan Sandra. Seakan seluruhnya begitu cepat berputar. Ya, semuanya tanpa bisa dihirau lagi. Laksana guyuran air hujan yang tak bisa dicegah, itu semua datang begitu saja. Rentetan kata yang keluar dari bibir tipis Sandra terus membius telinga hatiku. "Sudahlah buat apa kau pikirkan si Rio, semua cowok memang begitu. Bajingan semua," begitulah selalu Sandra menenggelamkan memoriku.

Tak terhitung lagi halaman demi halaman kalender di kamarku disobek. Hingga akhirnya diriku menyadari ini halaman terakhir kalender kedua. Tak terasa memang, dua tahun telah berlalu. Demikianlah adanya, ternyata pertalian kasih antara aku dan Sandra telah melewati dua tahun.

Kami begitu erat dan tak bisa terpisahkan lagi, meski sudut hatiku membisikkan bahwa kemesraan ini hanyalah semu. Namun, ku tak peduli dan mengharamkan segala cibiran di sekitar kami. "Mereka tak tahu, diamkan saja," ucap Sandra, menenangkan kegundahan hatiku saat itu. Aku tak sanggup menjawab, apalagi menentangnya. Hanya tanganku sebentar mencengkeram erat pundaknya. Ku memang tak mengerti meski diriku menyadari ada sesuatu yang salah.

Thank God. Ternyata, Tuhan masih mau berbaik hati mengembalikan untaian bintang di langit ke dalam jiwaku meski masih samar.

Ini bermula saat kami berdua tengah bercumbu di dalam kamarku. Sekonyong-konyong, bapakku membuka pintu yang memang tak terkunci. Secepat dibuka, secepat itu pula pintu kamarku ditutup dengan suara bantingan yang memekakkan telinga. Brak!.

Hanya dalam hitungan tak sampai sepuluh menit, ibu mengetuk pintu kamarku. "Buka nak, Ibu mau bicara." Pikiran dan perasaanku campur aduk seketika. Sandra pun tampak terpukul dan malu. "Gua cabut dulu." Sejak itulah Sandra senantiasa menghindari diriku. Mungkin dia malu pada keluargaku yang sudah dianggap keluarganya sendiri. Akhirnya, ku mendengar dia melanjutkan kuliah untuk mengambil master di negeri seberang sana.(Bersambung)

Gatsu, 4 November 2004
UNTAIAN BINTANG TAK BERTEPI (Bagian Pertama)

UNTAIAN bintang belahan langit Selatan seakan menjemput sunyi hatiku. Tak terasa pada bilangan kesepuluh, perasaan itu kembali mengental di sudut hatiku yang paling dalam. Lamat-lamat tanpa kuasa terkuak lagi memori mengelabu yang dimulai tepat sepuluh tahun silam itu. Ketika itu Rio mengombang-ambing jiwa remajaku. Kala itu pula kesejatian asmara menjerat segala logika dan perasaanku. Panas membara, bukan begitu Rio? Uh, semoga saja kau membaca tulisan ini, wahai masa laluku.

Seiring kegalauan hati, tape stereo set yang berada di atas meja kamarku mengalunkan nada lembut Sesuatu Yang Tertunda. Tembang apik grup Padi itu seakan meledek kegundahan hatiku sekarang. ...Tetaplah menjadi bintang di langit. Agar cinta kita akan abadi. Biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini. Agar menjadi saksi cinta kita berdua...berdua... Sudah...terlambat sudah. Kini semua harus berakhir. Mungkin inilah jalan yang terbaik. Dan kita mesti relakan kenyataan...ini. Menjadi saksi kita berdua... Lagu itu seakan mengoyak kesunyian hatiku.

Memang, saat itu dunia seakan berputar. Untaian bintang pun seolah tak segera menepi menyambut datangnya Sang Fajar.

Kegilaan demi kegilaan pun menghampiri diriku. Ku tak tahu mengapa setelah Rio mencampakkan daku, ada perasaan lain yang menerbit. Mula-mula, ya, mula-mula. Sandra adalah tempat curhat-ku. Gadis lembut ini memang kerap menjadi pelabuhan isak tangisku sejak dulu. Kami memang selalu sebangku sejak kelas satu sekolah menengah pertama dahulu.

Dengan kelembutan dirinya pula, segala kegundahan hatiku dapat tersapu pergi. Akan tetapi, sebenarnya, saat itulah awal petaka dan rasa malu terhadap sekelilingku dimulai. Ketololan itu memang tak bisa aku mengerti. Dan, saat itu, segala sesuatu memang mengalir laksana air tak bertepi yang selalu mencari titik rendah maupun kepuasan sesaat.(Bersambung)

Gatsu, 27 Oktober 2004
CATATAN BISU SANG BROMOCORAH

BADAN kekar itu akhirnya terjerembab ke tanah menyusul suatu tikaman mematikan dari belatiku. Darah segar pun mengucur deras dari lubang tikaman di lebar lehernya. Lelaki penuh tato ini sebentar mengerang sebelum tubuhnya bergetar hebat. El Maut akhirnya benar-benar menjemput ajalnya. Cuh. Ludahku menghujam dada berceceran darah tersebut.

Baru saja hendak meninggalkan bekas arena pertarungan, sepasang mataku melihat sesuatu menyembul dari kantong celana jin kumalnya. Terlihat lipatan kertas. Sepotong kertas ini dilipat-lipat berbentuk bujur sangkar. Perlahanku membuka lipatan demi lipatan hingga terbeber suatu tulisan panjang berhuruf sambung yang cukup rapi.

Sepintas, goresan tinta hitam yang mungkin dari pulpen murahan itu memang tanpa makna. Tanganku hendak meremas kertas tersebut, tapi tulisan yang pertama jelas memancing tanyaku. Si Bajingan Tua--begitulah aku menyebut Roy, lawanku tadi--ternyata penulis lumayan cakap.

Begini tulisan lembaran pertama:

Jakarta, pertengahan medio 1990
Terik matahari dan debu jalanan menyapu kasar mukaku. Peluh keringat pun mengucur deras di hampir seluruh badanku. Hari ini, harusnya aku mensyukuri hari kebebasanku setelah meringkuk di bui selama sepuluh tahun plus potong masa tahanan. Kutatap bangunan bertembok berjeruji nan angkuh tersebut.

Selamat tinggal Cipinang!

Ibu Kota di penghujung tahun 1990
Kota besar ini masih teramat ganas bagi orang seperti diriku yang tak mempunyai tempat berteduh. Para penjahat baik kelas kakap maupun teri berebut rezeki haram bagaikan anjing-anjing memperebutkan bangkai belaka.

Demi perut dan sesuap nasi, akhirnya aku menyusuri lagi dunia hitam kriminal tersebut. Di sinilah, keahlianku menggunakan kepalan tangan dan senjata tajam dihargai. Dengan disertai segudang kelicikan dan kebusukan, tentunya.

Bangsat!
Ucapan itu memang pantas diberikan kepada Bram, pemimpin gerombolan "kecoak" di pasar induk tersebut. Bayangkan, dengan begitu saja lelaki tinggi kerempeng merebut hasil palakan belasan anak buahku terhadap para sopir truk.

Sedangkan di lembaran kedua, Roy menulis:

Ternyata, Ibu Kota tak sekejam ibu tiri
Duel memperebutkan pimpinan preman di pasar induk pinggiran Jakarta itu, ternyata melambungkan namaku. Beberapa preman tua yang kini berperut buncit dan berkepala botak pun mulai melirikku. Mereka sepakat merekrut diriku untuk mengawasi permainan mickey mouse di kawasan dekat pusat kota. Tawaran yang mungkin hanya sekali dalam seumur hidupku. Menggiurkan. Aku pun menerima kepercayaan itu dengan hati senang.

Bangsat itu bernama Robby
Uhm... Lagi-lagi Robby. Si Bangsat itu masih saja berusaha mengganjalku mesti diakui bahwa dia pernah menjadi sohib kentalku selama puluhan tahun berselang. Dia kawan sebangkuku sewaktu di sebuah sekolah menengah atas swasta ternama di Kota Bandung, Jawa Barat. Semenjak dulu, Robby memang tak mau kalah bersaing denganku dalam hal apa pun. Dari balapan sepeda motor, rebutan cewek, hingga menenggak paling banyak Black Label. Begitulah, Robby seakan senantiasa menguntit segala denyut hidupku.

Tantangan duel ini mesti kuhadapi
Kali ini, kata-kataku tak mempan lagi mendinginkan api membara di kelompok yang telah sepuluh tahun mengangkat diriku sebagai pemimpin mereka. Popularitasku tampaknya memudar setelah Robby menghirup udara bebas setelah 20 tahun berdiam di Nusakambangan karena kasus pembunuhan. Terlebih, si Robby pandai menjilat kalangan preman tua berdasi di pusat kota. Robby pun pandai memikat hati sejumlah gembong kalangan hitam di pinggiran Ibu Kota. Dan, tantangan duel sampai mati inilah yang mesti kuhadapi. Aku siap, Robby!

Rob... Bila kau membaca lembaran kumal ini, berarti diriku sudah berkalang tanah, mati di tanganmu. Pesanku hanya ada dua, Rob. Kuburkan aku di kota kita sama-sama besar dahulu. Terakhir, ini mungkin menjadi rahasiaku selama ini, David itu sebenarnya adalah anakmu. Buah dagingmu sendiri, Rob. Kamu pasti masih ingat malam itu, tiga bulan sebelum dirimu dijebloskan ke Nusakambangan. Malam itu, kita mabuk berat sehingga peristiwa laknat tersebut benar-benar terjadi. Kau, malam itu memperkosa istriku, Dewi.

Pasti, kau mempertanyakan pengakuan dariku ini. Itu bisa dimengerti, sebab kau tak ingat apa-apa lagi setelah meniduri Dewi. Tapi kenyataannya, ini bisa kau tanyakan kepada Dewi, David adalah anakmu! Jadi, pesan terakhirku, akuilah dia sebagai anak kandungmu. David sekarang sudah besar, Rob, hampir kuliah. Dan, sampaikan pesan terakhirku padanya, mungkin dia mau memahami hal ini meski tak bulat-bulat menerima dirimu sebagai seorang ayah. Namun, waktu jualah yang bakal menjawab persoalan itu.

Tabik
Ttd Roy

Lembaran kertas kumal itu sekali lagi kuremas. Oh, Tuhan... Aku telah membunuh sahabat sekaligus orang yang telah membesarkan anakku.(Novh)

Gatsu, 12 Juni 2004
JINGGA DI KIARAPAYUNG
(Bagian Kedua)


"OIA, kenalin tuh teman gue". Tangan si Mejeng yang penuh urat karena sering digunakan memegang bola basket ini segera melambai ke arah seorang mahasiswi. "Dini", lirih ucap pemilik bibir yang merekah tersebut sembari mengulurkan tangannya. "Andi," balas pemuda yang dipanggil Bangkong itu. Ada sekian detik Bangkong memegang tangan Dini. Meski akhirnya tangan berjari lentik mungil itu dilepaskan, tatapan sepasang matanya yang bagaikan elang ini masih tertumpu ke wajah Dini. Ups! Persis seperti bayanganku selama ini," batin sang petualang itu.

Sebuah lagu dari grup Power Metal tiba-tiba menyemarakkan senja di perbukitan tersebut. Alunan rock itu rupanya dari perangkat audio di mobil milik seorang mahasiswa. ...Waktu datang dan berubah. Kala suara hati menyapa. Hilang kesunyian ditelan malam. Kugoreskan nada lama. Meredam nurani berbuat. Menyibak kalbu api rintangan... Wow, getaran hati. Menyentuh jiwaku. Membakar asmara, kenangan indah. Dalam hidup ini. Tak mungkin kulupa. Kenangan bersama. Kenangan bersama. Tak mungkin kulupa. Bayangan dirimu akankah berarti bagai awan yang hilang.

Alunan lagu Memori Jingga itu kini menggema lagi memenuhi ruang kamar Andi. Kenangan itu jelas membakar jiwa meski melewati rentang dua belas tahun. Betapa tidak, Andi yang saat itu ogah-ogahan mengikuti pelatihan tim lapangan sontak bersemangat. Dan hampir setiap ada kesempatan dalam empat hari acara di perbukitan tersebut, Andi kerap mencuri pandang ke arah Dini. Andi pun cukup puas bila melihat kedua bola mata Dini membelalak ke arahnya. Terutama saat Andi berhasil menggoda Dini yang kerap disertai deraian gelak tawa rekan-rekan lainnya. "Din, apa enggak kangen sama cowokmu di Jakarta?" serang Andi. Belum juga semburat merah di pipi Dini sirna, Andi kembali melancarkan serangannya. "Apa enggak takut kulitmu yang mulus itu bakalan kering terbakar terik matahari?"

Namun beberapa detik kemudian, justru Andi yang dibuat tercengang-cengang dan salah tingkah sendiri. Mahasiswi berambut bondol itu malah melempar senyum lembut kepada Andi. "Busyet, cewek ini tahan banting rupanya," Andi membatin. Keadaan berbalik sekarang, Andi yang malah blingsatan. Tapi jangan sebut Andi sebagai biang kerok sekampus bila tak cepat beradaptasi dengan situasi yang menjebak seperti itu. Sejumput kemudian, sembari mengikat rambutnya yang panjang seperti Indian itu, Andi segera beranjak. "Wah, untung ingat nih. Gue sekarang mesti ke puncak bukit dulu, ngukur kontur medan sekaligus merencanakan jalur pendakian nanti malam. Oke, dag semuanya. Dag Dini!" Andi pun segera berlari menuruni lembah dan langsung mendaki bukit di seberang sana.(Bersambung lagi)

Gatsu, 27 Juli 2003

Saturday, November 25, 2006

JINGGA DI KIARAPAYUNG
(Bagian Pertama)


PENDOPO itu tampak menjulang di sebuah puncak perbukitan kecil. Kawasan yang lebih dikenal dengan nama Kiarapayung ini sekitar belasan kilometer sebelah tenggara Kota Bandung, Jawa Barat. Saat itu, mentari yang condong ke barat masih cukup menerangi jalanan menuju perbukitan itu. Sekelebat tiga mahasiswa yang memanggul ransel ukuran sedang tampak berlari mendaki bukit landai tersebut.

Sembari memacu langkah kaki dan seakan tak mengenal lelah, pemuda yang berambut rada gondrong berkata kepada kedua sobat akrabnya itu. "Sialan lu, ngapain sih ngajak gue mengikuti latihan instruktur lapangan. Toh, pengalaman gue sudah bejibun. Mendingan, gue melancong ke Nusatenggara Timur". Pemuda yang kerap dipanggil "Bangkong" ini memang terkenal sebagai mahasiswa paling acuh atau dingin di fakultas yang gudangnya mahasiswi cantik dan manis itu. Dan, nyaris seluruh daratan dan perairan di Tanah Air pernah disentuhnya.

Gerutuan pemuda yang memang rada nyentrik di lingkungan Kampus Dipatiukur itu tak ditanggapi kedua rekannya. "Udah deh, ikutin aja dulu. Kalau enggak menarik, toh, kita bisa balik lagi," sergah lelaki satunya lagi yang membawa gitar kopong.

Pemuda yang itu memang personel band lumayan kondang di Kota Kembang, meski tak jelas aliran musiknya. Terkadang hanyut memainkan blues, tapi juga bisa larut saat memacu nada bertempo cepat dan energik musik heavy metal. Lelaki yang tak malu-malu mengaku kecanduan ganja ini senang bila dipanggil dengan nama Teddy.

"Sudah-sudah, begitu aja ribut," ucap lelaki ketiga yang bertubuh tinggi ceking. Mahasiswa yang satu ini memang rada kalem meski karakternya dapat berubah total saat memimpin ratusan mahasiswa yang berunjuk rasa memperjuangkan nasib para petani di sejumlah daerah. Selain otaknya berisi, dia terkenal radikal. Bahkan, Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan sempat menyerah ketika suatu waktu beradu mulut dengannya soal aturan demonstrasi di halaman kampus.

Sorak-sorai ramai segera membuyarkan debat kecil di antara tiga lelaki tersebut. Belasan mahasiswa-mahasiswi yang tengah berkumpul di pendopo berhamburan keluar menyambut gembira kedatangan "makhluk-makhluk aneh" itu. "Kirain, enggak datang. Tadinya, kami sulit ngebayangin bila kalian tak berpartisipasi," kata Ketua Panitia Perkemahan yang sering dipanggil "Mejeng" itu.(Bersambung)

Gatsu, 24 Juli 2003